Mac

Loading...

Jumat, 07 Januari 2011

Langkah Awal Belajar Piano / Keyboard

Warning! Tips berikut ini bukan buat kamu-kamu yang pernah belajar musik (minimal 1 tahun kursus). Tapi lebih ditujukan untuk membantu orang-orang yang belum pernah sama sekali menyentuh yang namanya piano atau keyboard. Murid-murid lebih sering menyebut “awam musik”. Ok, let’s get on with it.

1. Punya alatnya dulu dong!

Banyak yang berpikir : bisa dulu baru nanti beli. Kamu pernah belajar naik sepeda? Sudah? Ok, kamu bisa naik sepeda dulu baru beli atau beli dulu sepedanya? Got it? Ya, bermain musik adalah sebuah keahlian (skill). Menurut Longman Dictionary of Contemporary English: “Skill is an ability to do something well especially because you have learned and practiced it.” Jadi gak mungkin kamu bisa main Fantasy Impromptu atau Winter Games-nya David Foster setelah kamu dapat ilham lewat mimpi! You got to practice! Gimana mau latihan kalau gak ada alatnya. Mungkin kamu gak harus beli, bisa pinjam dulu atau numpang di rumah orang lain untuk belajar. Tapi intinya kamu harus punya alatnya dulu. Kebanyakan orang tua ragu membelikan anaknya piano/keyboard karena takut sang anak gak serius. Hal yang wajar. Tapi kalau si ortu mengharuskan anaknya bisa bermain, kalau bisa sampai jago, tanpa memberikan sarana berlatih itu namanya dzalim (dibaca: semena-mena!). Kasihan anaknya. Kalau memang belum mampu beli yang mahal, beli yang murah dulu aja. Sekarang sudah banyak kok jenis piano/keyboard dengan beragam variasi harga.

2. Kenali dulu alatnya.

Tau gak perbedaan piano dan keyboard? Piano berbentuk papan tuts tunggal, sepanjang 88 tuts atau kurang lebih 7 ½ oktaf, dengan bilah tuts yang lebih tebal dan berat dibandingkan keyboard. Piano terbagi atas piano akustik dan piano digital. Kalau piano akustik memiliki sumber bunyi dari senar logam yang dipukul dengan tuts, jadi tidak digerakkan oleh listrik. Klik http://www.pianokeyboard.com/pages_of_piano_history/History.htm untuk mengetahui jenis-jenis piano akustik. Harga baby grand piano yang paling murah sekitar 60 juta-an, itupun second. Kalau upright piano yang second mulai dari sekitar 8 juta-an.

Sekarang juga sudah banyak piano digital, yang sumber bunyinya berasal dari hasil sampling piano akustik (PCM wave) yang digerakkan oleh listrik. Panjangnya antara 76 hingga 88 tuts. Harganya? Mulai dari 3 jutaa-an. Tapi kamu harus hati-hati memilih karena tutsnya berbeda-beda. Ada yang namanya weighted keys atau graded hammer keys, maksudnya tutsnya lebih berat dan tebal seperti piano akustik. Tapi ada juga yang tidak setebal itu atau malah ringan seperti tuts keyboard biasa.

Nah kalau keyboard ada yang berjenis synthesizer, interactive/intelligent/portable/arranger keyboard, controller, sampler dan workstation. Untuk lebih jelasnya coba kamu lihat di halaman 1 buku “Metode Dasar Bermain Piano Pop” dan halaman 1 buku “Mahir Bermain Keyboard Tunggal”.

3. Memilih alat

Banyak murid saya bilang piano mahal, alat mereka di rumah keyboard. Bisa gak belajar piano pada keyboard? Bisa saja, gak masalah. Kalau hanya untuk menguasai basic piano. Tapi lebih lanjut dari itu kamu perlu beli piano deh. Kalau kamu belum mampu beli piano akustik bisa dengan piano digital. Malah enak gak makan tempat dan bisa diatur volume suaranya. Tapi tetap saja mekanisme tutsnya masih lebih natural dan nyaman piano akustik ya.

4. Mitos seputar belajar piano/keyboard

* Bisa piano berarti bisa semua alat.

Itu mitos yang paling sering saya dengar. Saya sudah bahas di artikel "Bisa Piano Berarti Bisa Semua Alat Musik".

* Belajar keyboard gak serius, cuma hiburan. Kalau mau serius belajarlah piano.

Wah gak bener tuh, silabus keyboard saya sampai grade 7 (7 tingkat). Dan banyak guru piano dan guru organ yang belajar keyboard sama saya belum lulus juga.

* Belajar piano klasik yang paling baik, nanti kalau mau belajar pop atau jazz lebih gampang.

Jangan muter-muter bos! Kalau kamu mau belajar piano pop sekalian dari awal saja. Sudah ada metodenya kok dan silabusnya ada 6 grade lho. Kalau kamu belajar piano klasik dulu bisa sampai tua baru bisa belajar piano pop. Dasar bermain piano sama untuk semua jurusan.

* Main keyboard bisa “merusak” jari.

Nah kalau ini ada benarnya karena tuts keyboard memang lebih ringan dan tidak se-ekspresif piano.

Nah kalau semua poin di atas sudah kamu penuhi baru datang ke kursus musik terdekat atau hubungi guru piano/keyboard ke rumah. Atau mau belajar sendiri? Boleh juga, coba cari buku-buku piano/keyboard yang sudah saya tulis di toko buku terdekat. Mudah kok, gak rumit. OK, enjoy your piano adventure!

Posted at 09:02 pm by mazeko
Make a comment Permalink

Apr 2, 2007
Interval dan Major Scales

Interval

Interval adalah jarak antar nada. Ada 2 jenis interval yaitu:

1. Chromatic interval (interval kromatis)

Satuan jarak antar nada terkecil adalah 1.



*
Jarak antara E dan F serta B dan C adalah 1
*
Jarak antara C dan D serta A dan B adalah 2.

2. Diatonic interval (interval diatonis)

Satuan jarak antar nada terkecil adalah ½.



*
Jarak antara E dan F serta B dan C adalah ½.
*
Jarak antara C dan D serta A dan B adalah 1.

Untuk seterusnya kita akan menggunakan diatonic interval karena lebih populer di Indonesia. Lebih "cocok di lidah" kita.

Major Scale

Istilah ngetopnya adalah tangga nada mayor. Major scale adalah rangkaian atau urutan nada dengan jarak seperti berikut ini.



Contoh di atas adalah tangga nada c mayor. Kita dapat membentuk tangga nada mayor dari not apa saja dengan rumus interval seperti terlihat di atas. Berikut ini adalah tabel berisikan semua tangga nada mayor (all 12 tones).



Latih semua tangga nada mayor tersebut dengan tangan kanan dan kiri, bersamaan dan terpisah minimal 2 oktaf. Sebaiknya kamu sudah mulai hapal not apa saja pada masing-masing tangga nada mayor dan bagaimana memainkannya. Ini adalah basic skill yang harus kamu miliki. Kamu gak akan jadi pemain basket yang oke kalau gak bisa passing dan shooting. Ya gk!
^^


Otodidak VS Kursus
"Bisa"nya seperti apa?
Seringkali saya mendapat pertanyan: "Saya atau anak saya sudah sekian tahun les piano atau keyboard tapi kok gak bisa-bisa sih!". Pertanyaan ini harus diperjelas, "bisa" yang diharapkan itu seperti apa? Setelah di probe ternyata ada beberapa jawaban.
  1. Bisa main lagu apa saja tanpa lihat buku.
  2. Bisa ngiringin nyanyi lagu apa saja.
  3. Bisa main band seperti band-band di tivi.
  4. Bisa improvisasi seperti Kang Purwacaraka atau Indra Lesmana.
  5. And the list goes on and on.
Orang lain nggak kursus kok bisa?
Kebanyakan musisi senior kita nggak ngerasain sekolah musik. Mereka adalah special people with special talent, yang udah nyemplung di dunia enetertainment di usia muda. Memang jaman dulu belum ada sekolah musik, karena yang ngerti musik-pun sedikit. Rata-rata mereka memiliki feel atau musical soul, hearing dan grooving yang kuat. Wah apa tuh tadi? Feel adalah bagaimana bermain dalam jenis musik yang berbeda-beda. Hearing adalah kemampuan mengenali nada, chord dan ketukan dengan hanya mendengar. Grooving adalah kemampuan mengikuti ketukan yang berbeda-beda dalam setiap jenis musik. Apabila seseorang memiliki ketiga unsur tersebut ditambah memori yang kuat, dia boleh dibilang berbakat dalam musik.  Tapi ternyata mereka yang otodidak memiliki beberapa kelemahan.
  1. Belum tentu mereka memiliki fingering atau penjarian yang rapi, enak dilihat.
  2. Kurang lancar baca not, apalagi menguasai teori musik.
  3. Kurang menguasai metode mengajar yang baik karena metode belajar mereka belum tentu bisa diikuti semua orang.
Kebanyakan musisi otodidak adalah pemain yang baik, tapi mereka kesulitan mentransfer ilmu mereka ke orang lain. Murid yang setengah "jadi" atau setengah "bisa"yang akan berkembang. Tapi murid yang mulai belajar dari nol, have no special talent, ya nggak janji deh! Tapi gimana kalo kita gak punya waktu pergi kursus? Sekarang sudah ada buku tutorial piano dan keyboard yang cukup bagus dari dalam atau luar negeri, dilengkapi CD pula jadi bisa belajar sendiri.
Les musik, nggak sia-sia tuh?
Ya nggak lah! Tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
  1. Cari referensi tentang sekolah musik yang ingin dimasuki dari orang lain yang sedang dan pernah belajar atau lebih bagus lagi dari pengajar musik.
  2. Kenali guru kita, minta juga referensi dari orang lain tentang bagaimana permainannya, lulusan mana, gimana ngajarnya, dll.
  3. Ceritakan kepada guru atau instruktur apa saja harapan kita dari belajar musik. Tanyakan juga metode belajarnya, punya lesson plan gak. Kalau ternyata dia gak bisa membantu apa yang kita harapkan atau malah jadi tersinggung, tinggalin aja!!
  4. Jangan sampai salah jurusan, kalau kita ingin main lagu-lagunya Kahitna ya jangan masuk piano klasik!
Sekarang ini udah mulai banyak kok kursus dan sekolah musik dengan metode yang baik. Banyak juga lho pengajar piano lulusan overseas. Tapi jangan masuk ke kursus yang nggak punya metode dan kurikulum. Bisa dilihat kok dari materi per tingkat dan buku-bukunya. Kalau sudah dapat guru dengan metode dan kurikulum yang bagus, jangan malas latihan. Buat komitmen untuk latihan sekian menit setiap hari. Kalau gak ada kemajuan, jangan salahkan orang lain. Kalau bisa dengarkan sebanyak mungkin musik dari CD atau kaset untuk memperluas wawasan bermain.

Definisi dan Fungsi Chord
Chord itu apa?
Ok, sekarang buka keyboard atau piano kamu. Mainkan minimal 3 not yang berbeda, apa saja. seperti contoh di bawah ini.
 
Atau
 
Baik contoh pertama maupun ke dua, masing-masing adalah chord. Chord pertama adalah C dimished 7, chord kedua adalah D minor 6. 
Jadi secara aplikatif, chord atau akord atau akor atau grip (jadul banget!) adalah tiga nada atau lebih yang dimainkan bersamaan maupun terpisah.
Bagaimana dengan 2 nada? Kalau 2 nada saja belum bisa disebut sebagai chord, masih dikategorikan sebagai double notes seperti contoh di bawah ini.
 
Fungsi Chord
Karena terdiri lebih dari 3 nada, maka chord terdengar lebih "lebar". Sangat cocok dimainkan untuk mengiringi melodi atau kalimat lagu. Dalam piano dan keyboard, melodi umumnya dimainkan dengan tangan kanan, chord dimainkan dengan tangan kiri. Jadi pada dasarnya chord atau harmoni adalah iringan.
Penggunaan chord sebagai iringan ternyata sudah lazim digunakan sejak zaman  klasik (1740-1830). Di bawah ini saya nukilkan Sonata in C major dari Wolfgang Amadeus Mozart.
 
Chord dimainkan dalam bentuk broken chord atau dengan gaya bermain "Alberti", sebuah trend memainkan iringan pada zaman tersebut yang di populerkan oleh seorang musisi dengan nama yang sama. Kamu bisa memainkan lagu lain, bahkan lagu pop yang kamu suka, dengan gaya bermain ini. Pasti terdengar lebih "klasik" deh!
Pada perkembangannya, sebagai respon dari masuknya musik dalam dunia bisnis hiburan, muncul musik pop, rock, hip hop, de el el. Walaupun demikian, rumus dasar komposisinya tetap sama: melody, rhytm dan chord. Bahkan ada banyak lagu yang memiliki progresi chord yang demikian kuat, yang bahkan sepertinya tidak membutuhkan melodi seperti Jump (Van Halen), Smoke on the Water (Deep Purple), Feel (Robbie Williams), Invisible Touch (Genesis) atau Winter Games (David Foster). Jadi penggunaan chord untuk mengiringi melodi ternyata tetap popular hingga saat ini, namun cara memainkannya mengalami banyak perubahan sesuai style dan trend musik yang selalu berubah.
Cara memainkan chord
Pada dasarnya hanya ada 2 cara memainkan chord yaitu:
  • Block chord     : semua not dimainkan bersamaan
  • Broken chord   : chord dimainkan terpisah satu per satu
Pengembangan dan variasi permainan chord selanjutnya disesuaikan dengan style atau jenis rhytm musik seperti pop, latin, rock, blues, latin, dan lain lain. Berikut ini adalah contoh iringan chord beberapa jenis musik.
Hard rock – block chord abisss…!
 
Pop ballad – broken power chord
 
Bossanova – block chord
 
Penjelasan lebih lanjut mengenai block, broken dan power chord chord dapat kamu jumpai di buku Metode Dasar Bermain Piano Pop dan Iringan Musik Pop. Kalau belum ada coba cari di Gramedia atau toko buku lain. Sekarang saya sedang menyusun materi buku Metode Lanjutan Piano Pop untuk menjelaskan bagaimana cara bermain piano yang lebih keren lagi! kita akan teruskan lagi pembahasan mengenai chord pada posting mendatang.   

Misteri Improvisasi
Kalau nggak bakat apa bisa?
Kata banyak orang improvisasi itu tergantung bakat. Nggak bakat, nggak janji deh! Is that true? Ya nggak gitu-gitu amat lah. Talent is a big thing tapi jangan terlalu mengagungkan bakat. Improvisasi, mostly in jazz, memang sebaiknya spontaneous. Tapi bahkan improvisasi spontan dapat dilatih. Ada metodenya. Ada guidance yang dapat diikuti, semua orang dapat mulai berimprovisasi. Tapi sayangnya tetap ada perbedaan karya seorang maestro dan amatir. Musisi seperti Herbie Hancock atau Bubby Chen sangat dihargai karena permainan dan karyanya. Di sini, besar kecilnya bakat seseorang sangat menentukan. But, any body can improvise with or without talent.
Apa sih improvisasi itu?
Menurut Longman Dictionary Of Contemporary English, to improvise means "to perform music, drama or comedy that comes straight from your imagination and has never performed before". So, spontanitas adalah unsur terpenting improvisasi. Anda bisa saja mempelajari solo transciption Mr. X atau Mr. Y dan menghapalkannya. Tapi sayangnya itu bukan improvisasi, hanya memainkan kembali karya atau ide orang lain. Dalam musik kontemporer Improvisasi terbagi atas tiga aktivitas:
  1. Memainkan melody secara spontan berdasarkan progresi chord yang sudah ada.
  2. Men-subtitusi atau mereharmonisasi chord-chord yang sudah ada.
  3. Mengubah style atau rhytm sebuah komposisi.
Biasanya orang merujuk pada aktivitas no 1. Yang dimaksud improvisasi ya itu! Padahal improvisasi tidak hanya solo playing doang! Bila Anda sedang mereka-reka chord apa yang bisa mengganti chord lagu yang sudah ada supaya terdengar tidak monoton, you are improvising! Bila Anda merubah iringan lagu pop menjadi sedikit jazzy, you are also improvising.
Gimana latihannya dongz?
Ok, karena improvisasi urusannya sama spontanitas dan spontanitas urusannya sama refleks alam bawah sadar maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
  1. Dengarkan musik, dengarkan musik! Mulailah ber-diet mendengarkan musik. Kalau Anda sedang belajar jazz, jangan dengarkan the Brandals, Serious atau Muse dulu ya. Kalau Anda sedang menekuni piano klasik jangan dengarkan Trio Macan dan Nidji dulu. Karena Anda harus sadar bahwa apa yang kita dengar mempengaruhi apa yang kita mainkan secara spontan.
  2. Minta guru/instruktur musik Anda memberikan latihan ear training. Anda harus peka menangkap perbedaan tinggi rendah nada, ketukan, jenis chord dan lain-lain.
  3. Putar lagu favorit Anda dan mulai mencari melodi dan chordnya (bahasa kita, anak2 band: ngulik). Kemudian tulis dalam staff (buku/kertas garis 5). Belum lancar not balok? Pakai not angka boleh, pokoknya start writing!
  4. Latihan kecepatan dan power jari ya! Jangan sampai ide udah ngumpul tapi bengong lagi di depan piano/keyboard karena jari-jarinya udah karatan karena lama gak latihan jari.
  5. Mulai main bareng. Ajak teman-teman bikin band. Atau ajak siapa aja yang bisa nyanyi atau main musik. Ini adalah sarana yang cukup efektif untuk mengaplikasikan ide musical secara spontan.
Intinya improvisasi spontan terjadi melalui proses pengumpulan ide-ide musikal dari musik yang kita dengar. Kemudian  kita hanya tinggal memainkan ide-ide yang ada di kepala. It's that easy? Tips di atas dapat membantu anda mulai berimprovisasi dan memperluas ide. Tapi Anda tetap perlu belajar secara khusus tentang masalah ini kepada seorang instruktur yang memiliki metode latihan improvisasi. Start to improvise now!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar